Wow, Polisi Sebut Muslim Cyber Army Punya Sniper dan Akademi Tempur

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri masih terus mendalami struktur dan pola kerja kelompok Muslim Cyber Army (MCA). Dari pengakuan sejumlah tersangka yang sudah dibekuk, polisi mendapat data-data yang mengejutkan.

Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar mengatakan, dari pemeriksaan sementara, ternyata Muslim Cyber Army yang namanya mulai terkenal sejak aksi bela Islam itu memiliki akademi tempur dan sniper.

Akademi tempur dan sniper adalah tim yang khusus melempar isu provokatif di media sosial seperti kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan sejumlah ujaran kebencian terhadap tokoh pemerintahan.

“Mereka punya Cyber Troop bahkan punya akademi tempur, punya juga tim sniper,” ujarnya, Selasa (27/2).

Namun untuk memastikannya, penyidik masih akan memeriksa lebih lanjut. Apakah tim itu benar bagian dari Muslim Cyber Army atau bukan.

Sebelumnya Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri membekuk pelaku utama kelompok ujaran kebencian yang tergabung dalam grup Whatsapp “The Family MCA”.

Penangkapan dilakukan secara terpisah di lima kota yakni Jakarta, Bandung, Bali, Pangkal Pinang dan Palu. Tersangka yang ditangkap berjumlah lima orang yaitu ML (40), RSD (35), RS (39),Yus (23) dan RC.

Atas ulahnya kelima pelaku dikenakan Pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Juncto pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis Juncto pasal 33 UU ITE.

Polisi Dalami Kemungkinan Ada yang Mendanai Muslim Cyber Army

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Fadil Imran mengatakan, pihaknya belum mengetahui apakah Muslim Cyber Army (MCA) bekerja atas inisiatif sendiri atau menerima pesanan dari pihak lain. Diketahui, MCA menyebarkan isu-isu provokatif berupa ujaran kebencian dan diskriminasi SARA di media sosial. “Kami sedang dalami siapa yang menyuruh dan dari mana mendapatkan modal sehingga bisa melakukan kegiatan seperti ini,” ujar Fadil di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (28/2/2018). Fadil mengatakan, pihaknya juga menyelidiki apakah mereka berafiliasi dengan organisasi tertentu. Setelah ditangkap pada Senin (26/2/2018) kemarin, para tersangka belum diperiksa intensif oleh penyidik. Menurut Fadil, penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan digital forensik terhadap jejak digital mereka di media sosial. “Untuk pengembangan interogasi siapa yang menyuruh, bagaimana korelasi mereka dengan pihak lain, itu pada hari berikutnya kami akan dalami,” kata Fadil.

Menurut Fadil, pihaknya juga belum mengetahui motif para tersangka menyebarkan konten-konten tersebut. Nantinya hasil digital forensik akan dikonfirmasi kepada tersangka sehingga tidak bisa berkelit. “Kalau kami melakukan pemeriksaan berdasarkan tanya jawab, kan, bisa ngelantur ke sana kemari. Tapi kami ada pegangan scientific untuk melakukan interogasi terhadap mereka,” kata Fadil. Sebelumnya, polisi menangkap anggota MCA di beberapa tempat terpisah, yakni Muhammad Luth (40) di Tanjung Priok, Rizki Surya Dharma (35) di Pangkal Pinang, Ramdani Saputra (39) di Bali, Yuspiadin (24) di Sumedang, Romi Chelsea di Palu, dan Tara Arsih di Yogyakarta. Konten-konten yang disebarkan pelaku meliputi isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia, penculikan ulama, dan pencemaran nama baik presiden, pemerintah, hingga tokoh-tokoh tertentu. Termasuk menyebarkan isu bohong soal penganiayaan pemuka agama dan perusakan tempat ibadah yang ramai belakangan. Tak hanya itu, pelaku juga menyebarkan konten berisi virus kepada orang atau kelompok lawan yang berakibat dapat merusak perangkat elektronik bagi penerima.

Reply

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==